rindu kamu
Malam ini awal musim penghujan non. kota tua kita terguyur tetes-tetes air dari langit itu, indah sekali. Kebun-kebun padma itu mulai tampak hidup, bunganya mulai bermekaran indah. Begitu juga dengan kamboja di sudut jendala ini, mulai mekar dan berkisah tentang harinya. Halaman-halaman rumput itu begitu segar dan mempunyai essense sendiri dari basahnya, entahlah non tapi lebih wangi dari parfum manapun yang kukenal, parfummu bahkan. Walau aku kini mulai lupa wangi parfum itu, senyummu bahkan aku mulai lupa. Sebenarnya ingin sekali mengingatnya, membauinya walau engkau sejauh puluhan kali rasi bimasakti.
Gitanjali di tanganku ini belum lagi habis kubaca, saat tetes terakhir ekspresso meresap dilidahku, yang kerap kelu saat berbicara denganmu. Malam ini aku menikmati seperti biasanya di sofa favorit di kafe ini. Hanya beberapa langkah dari tempatmu menjemput senja, pulang dengan langkah lunglai atau tawa renyah karena sudah habis waktumu hari ini berkutat dengan segala angka dan birokrasi. Bagai sebuah ritme not yang kerap dimainkan di atas steinway klasik, berplitur jati.
Kadang di musim-musim seperti ini aku berharap kembali lagi melihat pelangi, pelangi dalam artian sesungguhnya. Benda setengah lingkaran yang warnanya seindah kosong matamu. Namun pelangi itu tak jua tiba, bahkan hanya untuk mengkonfirmasi kedatangannya lewat sms atau sambungan jarak jauh. kurasa engkau juga telah memakan pelangi itu, seperti engkau makan bulanku. tapi tak apa, aku lebih suka kau memakannya.
Bagaimana kabarmu disana ? bagaimana dirimu sekarang ? kemarin siang manyar-manyar itu mampir ke jendela ini. Berkata malu-malu bahwa engkau telah memotong rambut panjangmu. Sekarang model apa ? membentuk apa ? sebuah puisikah ? atau cerita dari negeri segala lupa mungkin. Ah aku penasaran melihatnya, besok bisikkan kepada manyar-manyar yang kerap mampir itu, biar mereka yang ceritakan kepadaku.
O ya
Kau ingat pohon oak kecil itu, sekarang bertambah besar dan kuat. Ia tumbuh dewasa, kadang meranggas, kadang begitu lebat daunnya. Ratusan orang telah datang ke dalam teduhnya, walau hanya untuk duduk-duduk dan tidur-tiduran bahkan. Kadang aku tercenung, aku ingin sekali menjadi pohon itu, ya…..seperti pohon itu. Yang sukarela memberti teduhnya, agar kamu juga bisa berteduh dibawahnya. Apalagi di musim hujan seperti ini, kamu bisa berteduh dengan siapa saja yang kamu inginkan. Setelah itu cukuplah tinggalkan bayangmu disana.
Sekarang sudah pukul 2 pagi di negeri kemarau ini, cuaca menusuk dingin, bekas-bekas hujan yang turun sore tadi. Di setiap genangan air menuju rumahku, rinduku ikut menetes berbaur dengannya. Rindu pada tawamu…rindu pada senja yang silaukan matamu, sehingga kau tak lagi bisa tertawa dengan kelengkapan dua buah bola mata.
cijantung 09-06
ditulis oleh rya yunnianto
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
Ingin pulang
rindu itu kini menjadi sebuah abses non, kemarin gerogoti hati perlahan namun pasti. Bagaimana kabarmu disana non ? Non tempo hari aku coba jalan-jalan ke kota tua, susuri loji-loji itu sendiri. Dan tebak, ya aku juga ke kwitang cari buku yang itu. Namun rupanya tak dapat non. Sudah jarang katanya. Panas sekali waktu itu, pulangnya aku mampir ke eskrim ragusa sana, sendiri pula non. Makan es coklat semangkuk dan teh botol. Lalu coba baca-baca red hering yang sengaja aku bawa dari kantor. belajar gaya penulisan maunya, tapi malah terjebak ke gayamu tertawa riuh saat malam itu.
Satu yang kerap hilang non, rasa penerimaan. Hanya itu sebenarnya yang aku butuhkan, bisa menerima. Ya bisa menerima, semua hal yang kita dapatkan. Walau kecil walau sedikit, walau menyakitkan. Sakit sekali bahkan kadang, pedih seperti yang tidak pernah dibayangkan. Non hari-hari ini bertambah sulit di satu sisi, bergumul dengan lekukan-lekukan tajam kehidupan ini. Mungkin saya terlalu idealis atau terlalu bajingan, tapi jujur saya lebih memilih untuk dizalimi daripada menzalimi, lebih memilih disakiti daripada menyakiti, seperti juga saya memilih untuk ditinggalkan daripada meninggalkan. Bukan soal pengecut non, bukan, bukan soal nerimo apa adanya. Entahlah non, hidup kan tidak hanya bisa dijelaskan dengan secarik surat. Kitab-kitab berwarna usam itu rindu sekali saya sentuh non, saya sesapi bait demi baitnya. Kitab-kitab kehidupan yang dulu aku selalu ceritakan itu non. Aku menghilangkannya……hilang.
Non aku rindu ceruk-ceruk itu, aku rindu kembali dipeluk alam. Aku rindu saat-saat duduk di tepi dangau, saat-saat kakiku menyentuh air beriak itu. Mungkin saat itu aku miskin non, tak punya banyak uang, tapi aku berkecukupan. Non malam tadi kulewatkan lagi ramadhan menatap bintang-bintang itu, menatapnya lekat. Indah sekali rasi-rasi itu, seperti senyum dan untaian kata yang tak pernah bisa terbeli mungkin non. Non dada ini sesak sekali, seperti asap knalpot bus-bus kota itu dicangkok di paru-paruku. Ingin pulang non….pulang, namun aku tidak tahu kemana, seperti aku tidak tahu kemana pergimu.
non aku ingin pulang…….
cijantung 09-06
ditulis oleh rya yunnianto
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
Puasa Di Hari ke-100
119 hari setelah 27 Mei 2006
Tarawih
tarawih malam ini menjamuku di beranda Ramadhan
dia sisihkan sesajadah ruang untukku
di antara puing banyak nama
kemudian kami bercerita berabad rakaat
kami bertukar zikir juga berabad rakaat
ketika tarawih lunglai dihitungan sujud
witir menyambutku dari ruang tamu Ramadhan
ada wangi kanthil terhiduku begitu keras.
Sahur
sepotong telegram
mendatangiku tadi malam
setengah memaksa
dia bujuk aku membuatnya tanpa busana
di pinggir nyawaku
dia berbisik …
“aku dan mbokmu ndak sahur di rumah titik bapakmu”
Berbuka
Ya AlLaah, aku berbuka setelah kujaga puasa mataku
dari perih pada amben mak yang kosong
dari perih di sorjan bapak yang kehilangan tuan
dari perih papan dakon jeng Sri yang kesepian
Ya AlLaah, aku berbuka setelah kubentengi puasa mulutku
dari tirisan air sumur kami yang tertutup nisan
dari lumatan gandul kami yang memerah di laut
dari manis nasi yang amblas di lumbung bumi
Ya AlLaah, aku berbuka setelah kupagar puasa telingaku
dari nyanyian shalawat bayi-bayi kami yang menyambangiMu
dari kidung asmaradhana para mempelai yang bersanding di langit
dari gendhing tanpa bonang para resi yang tersedak namaMu
Ya AlLaah, terima puasaku dan izinkan aku berbuka..
ciputat 230906 – 240906 22:52
ditulis oleh pakcik ahmad
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
sepulang kuliah
Siang ini matahari Singapura cukup terik. Aku sedang membenahi peralatan lukisku di kelas terakhir. Seperti biasa, kuas dan cat air selalu berdesakan: berebut ingin dirapikan lebih dulu. Maka lekas-lekas kudamaikan mereka dan kusimpan kedalam tas tua: hijau dan lusuh dengan beberapa robekan berarti yang menandakan pengabdian, sudah 9 tahun umurnya. “Ini dia tas kesayanganku.”
Di luar kelas, aku berpaling sesaat pada teras sambil menghela nafas dan kulihat seorang gadis sedang berjalan menuju gedung ini. Kulambaikan tangan dan tersenyum, namun ia hanya menoleh sesaat sambil sibuk dengan kardus yang dijinjingnya. Sepertinya sedang terburu-buru. Aku juga teringat kalau sudah pukul 4 dan aku pun harus lekas.
Aku berjalan menuju tangga ke bawah dan seperti dugaanku, aku berpapasan dengannya. Gadis itu sepertinya tengah ketinggalan kelas dan akhirnya ia berlalu saja dengan hanya sempat kulirik sebentar pada wajahnya yang tergesa. Lalu kulanjutkan menuruni tangga, menuju pintu keluar pejalan kaki.
Ah, gadis itu tadi adalah yang baru kukenal beberapa hari lalu. Ia tak juga manis, tapi juga tapi cerdas dalam debat yang di gelar dalam kelas (itulah yang kusuka). Hari itu kita bertemu di kantin. Entah mengapa ia menghampiri mejaku sambil menyapa temanku ditambah beberapa obrolan sampai ia tanya namaku pada temanku itu. Memang aku tak perlu berkenalan, sebab sudah lama aku memperhatikannya sejak beberapa hari aku memulai kuliah. Kami berkenalan sambil dicobanya untuk menggambar wajahku. “Sorry if I draw your face like anime,” katanya. Aku tertawa renyah sambil kulahap makan siang. Hmmh. Kali itu mungkin aku merasa terganggu, sebab tak biasanya aku tak menikmati makan. Apalagi menu siang itu adalah chicken vegetable rice kesukaanku. Dengan nafsu yang tersisa, kulahap habis makananku sambil tersenyum melihat hasil gambarnya yang tak karuan. Setelah makanku selesai, aku pun pamit sebab kelas selanjutnya sedang menunggu. Namun entah mengapa, gadis itu masih asik saja dengan kertas gambarnya. Dan aku sedikit kecewa dengan waktu yang tak berpengertian.
Sekarang aku sudah di pintu keluar pejalan kaki. Pintu ini kecil dan biasa dijadikan smoking corner. Memang bisa gawat kalau sedang ramai dan kepulan asap rokok sedang tebal: selain jalan jadi terhambat, nafas pun jadi tersendat. Aku berbegas saja melalui pintu itu dan kutapaki jembatan penyebarangan ke jalur seberang dimana akan kutunggu bus: nomor 14.
Bus yang satu ini memang lambat. Lama ditunggu, aku malah mencium bau asap rokok lagi. Ada yang merokok berjarak 2 meter di sampingku. Aku perhatikan sebentar sambil tercenung: dia menghisap rokok atau ia yang dihisap rokok? Tapi rokok selalu mati terlebih dahulu dan kemudian menanamkan ruhnya dalam tubuh orang itu. “Mari sayang, hisap aku hingga ke dalam ceruk hidupmu…”
Akhirnya bus datang juga. Aku segera naik sebab tak ingin ketinggalan bus yang pemalas ini. Air-con di dalam bus cukup sejuk untuk mengimbangi cuaca, sambil kunikmati perjalanan de javu: pemandangan setiap yang hari selalu sama.
Setelah beberapa bus stop, bus berhenti di sebuah bus stop yang cukup ramai dan di sana naiklah beberapa penumpang. Kadang kalau kursi di sebelah sedang kosong, maka benak boleh mempersilahkan imajinasi: memilih seseorang gadis dari beberapa yang sedang memasuki bus dan melangkah menuju salah satu kursi; mempersilahkan seorang gadis manis untuk duduk disebelah kursiku agar imajinasi dapat iseng-iseng menggodanya. Walau akhirnya pun aku tak berkesempatan memandangi kemanisannya dan hanya biru langit yang bisa kupandangi siang ini melalui jendela bus.
Gadis manis… Entah, malah bayangan senyum manis gadis kenalanku itu yang menghampiri pikiran. Sambil tersenyum, biar kubayangkan apa yang ada di hatinya sepanjang hari ini…
ditulis oleh Steven Kurniawan
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
Ode untuk Perempuan Tua
Mak, aku pulang
Maaf cuman sejanjang ikan tak penuh ini yang bisa kuperoleh untukmu. Tadi aku terlalu asyik mengamati camar. Hingga terbawa sampai ke utara. Bertemu kapal-kapal pembesar. Di ejeknya aku. Perahu kecil dan mesin tua ini. Hanya ikan ikan tak berakal yang bersedia menyerahkan nyawa di ujung jaring usang kita.
Aku geram mak, lalu ku ajak mereka bertanding. Beradu otot tanpa otak. Kupaksa mesin hingga terkolaps. Apinya melingkar menggumpal-nggumpal. Hitam. Bau solar memerahkan hidung. Bukan menang yang ku dapat tapi hilangnya harga diri. Terombang – ambing aku tanpa tangkapan. Terayun ayun tak punya tujuan. Bahkan bintang besarpun tidak memihak aku. Dibiarkan aku tenggelam dalam pekat.
Sampai lelah aku mengayuh. Mesin tua tak mau jalan. Menyalahkan siapa mak? kebodohanku atau kemiskinan kita? Untuk 30.000 yang kita setorkan.
Sial sekali itu juragan kejam. Mencekik leher sampai melilit. Kalau aku tak sayang emak, mungkin sudah kuracun mati dirinya. Memeras orang melas sampai terperas. Kehabisan nafas. Untung saja aku bertemu nelayan baik. Hanya bercerita saja aku, tentang hujan dan warna pelangi . Lalu dibaginya ikan dalam janjang itu. Lumayan mak, ambil 3 ekor untuk kita goreng. Makan bersama adik. Ekor-ekor tersisa boleh emak jual, untuk beras dan mencicil si pengerat licik itu. Solar 4.300 dijual 5.000. Kepalanya cuman dipenuhi untung. Belas kasih tidak pernah terlintas. Asal perutnya menggembung dan emas di leher bertambah, tutup mata ia akan kelaparan. membengis ia pada isak tangis.
Sudah ku bilang dari dulu Mak. Jual saja rumah dan perahu. Pindah kita ke tengah hutan. Menanam padi dan singkong. Laut tidak memberi apapun, hanya kenistaan. Digulung ombak, dihempas penderitaan. Apa yang membuat mu masih bertahan mak? Cinta, kenangan atau ketidak-inginan. Aku lelah beradu mulut, berbusa busa kata ku teriakan sekedar membuatmu melihat pada kenyataan. Laut sudah tidak bersahabat lagi dengan kita.
Harus menunggu berapa lama lagi mak? Melihat semuanya hilang dan tinggal tersisa raga?
Aku mencintaimu perempuan tua. Tak tergagas meninggalkanmu. Susahpun aku mau. Tetap di sini sampai mati. Walau iming-iming menggenggam ringgit dan real sedemikian derasnya. Walau harus legam terpanggang matahari. Akan tetap kujelajahi lautan luas. Mencari sampai dapat apa yang tidak mau engkau lepaskan.
Tidurlah Mak,
Pagi-pagi buta aku sudah harus pergi. Berjanji, tidak Cuma sejanjang yang aku bawa pulang, tetapi dua. Ditambah jaring usang yang penuh ikan-ikan tak berakal. Pasti tersenyum engkau nanti.
25.8.06 – gigi dan catatan pantai.
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
insiden meja kerja
08:03:59
Apakah aku salah mengenalimu? Pada katakatamu sesekali kutemukan cerah yang begitu memikat. Untunglah indera pengingatku masih bekerja baik untuk tidak melupakan apakah tujuan utamaku berada di ruangan ini, setelah kutempuh ribuan kilometer untuk mencari dan menemukan keberadaan dirimu.
8:04:17
Mungkin lebih mudah kulakukan pekerjaan ini bila aku berkata jujur padamu. Begini sayangku, sebenarnya aku belum pernah membunuh seorang pun dan aku tak pernah berniat membunuh siapapun hingga semalam, sewaktu seorang sekutu mengusulkan sebuah ide untuk membuatmu merasa jauh lebih buruk daripada mati. Aku bukan pembunuh; maka dikirimnya aku berkunjung pagi ini untuk berdiri di depan meja kerjamu. Bersiap menjadi pelayanmu, dan melakukan apa saja yang kau mau. Apa saja.
8:05:33
Tenanglah, jangan kau pasang raut pias itu. Aku masih manusia biasa yang begitu mencintaimu. Tak ada yang berbeda dariku setelah empat lima tahun berlalu meski kulihat kini kau begitu manis dan rapih dengan pantalon dan sepatu kulitmu. Tentu saja aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu. Tak tahukah kau? Itulah sebabnya pagi ini aku ada di sini. Aku tak hendak menyakiti orang yang paling kucintai. Semua ini hanya main-main saja. Sama seperti ketika kau bermain katakata suci tak bercela yang kau taburkan pada lukaku yang membusuk, kau bilang: siapa tahu ini bisa sembuhkan luka. Marilah kita bermain-main sekali lagi untuk yang terakhir kali. Serangkaian katakata suci terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja, bukan?
8:08:18
Aku membunuhmu, akhirnya. Kau mungkin tak terlalu sadari betapa peluru itu telah melesak ke jantungmu sementara kau masih mencoba untuk menghapus semua jejakmu. Tak perlu saksi ahli kali ini, tak perlu visum et repertum selain tergenggam benakmu yang berlumur cairan pekat racunmu dalam sekepal kecil tanganku. Ya, sedikit saja itu cukup buatku.
8:09:00
Sebotol karbol untuk tutupi busukmu, setumpuk kertas dan pena untuk pesanpesan terakhirmu, setumpuk suratsuratmu dan katakata suci yang tak pernah terlalu suci. Bawalah semua dalam koportuamu selagi kau memilih untuk mati dan napasmu tak kunjung padam.
ditulis oleh milka basuki
ingatan historis
ingatan kata Gao Xinjiang “pemenang nobel sastra 2000″ bahwa tidaklah diwariskan seperti gen. manusia punya fikiran tapi tidak cukup pintar untuk belajar dari masa lalu, dan ketika api kedengkian menyala dalam fikiran manusia, maka dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Begitu juga dengan sastra, paling tidak itu yang ditangkap dari ruang makna bahwa sastra adalah salah satu tempat bagi kita untuk tidak mengulang kebodohan kita sendiri.dengan segalam macam cara, sastra telah menjadi pertautan kita kembali dengan sejarah yang akan membentuk dan akan menentukan eksistensi kita sebagai manusia. Apalagi sastra-sastra dengan kesadaran-kesadarannya dengan sejarah. Ambillah contoh Pramoedya Ananta Toer dengan karya-karyanya, yang sepertinya memang sengaja ditulis agar manusia menyadari lingkungan historisnya. Sejarah sendiri disini bagi pram berfungsi untuk sebuah titik orientasi yang memandu manusia agar tidak kehilangan arahnya.
Ada cerita menarik dari pram yang saya baca dalam sebuah sesi wawancaranya dengan martin aleida. Disitu pram bercerita tentang sebuah kejadian di pulau buru, karena rancangan Bumi Manusia pram sendiri telah ditulis dan diceritakannya berulang-ulang di pulau buru, kata pram. Seorang temannya setelah membaca rancangan Bumi Manusia, lantas lari dan menghilang. Teman-temannya sengaja tidak melapor tentang kejadian tadi
Dicari kemana-mana berhari-hari gak keliatan. Sampai akhirnya dia ditemukan di salah satu bagian hutan. Diseret lalu dibawa pulang, orang itu ditanyai mengapa lari ? dia menjawab “saya mau menjadi minke”. Sendirian dia lari.
Sinting itu kata pertama yang keluar dari benak saya. Seorang melakukan semua ini karena kata-kata yang digoreskan pram di bumi manusianya. Inilah kesadaran manusia agar menyadari lingkungan historisnya, sebuah lingkungan hidup yang tidak berbatas hanya pada pepohonan dan lain sebagainya.
Inilah sebenarnya yang kadang membangkitkan saya untuk menulis, menulis apa saja…karena mungkin saja ada percikan-percikan bunga api yang akan membuat orang lain atau paling tidak saya sendiri yang merasakan kehangatan api-api yang akan dihasilkan. Ini yang saya ingin curahkan dalam tulisan-tulisan saya, entah seperti apa perkembangan zaman ini membawanya. Yang penting karya saya bisa membuat saya sedikit lega.
Pramoedya dan saya dua hal yang sama sekali berbeda, tapi jangan salahkan masa jika kami mengambil senjata yang sama …………kata-kata………..
RYA YUNNIANTO,TEBET 11-7-06
Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia
[galeri karya] Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia – Asep SambodjaAda sebuah pertanyaan besar yang sampai sekarang belum ada jawaban yang memuaskan. Benarkah sastra Indonesia lahir pada 1920? Tidak sedikit pakar sastra Indonesia yang masih berpendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai pada 1920 dengan sejumlah argumentasi yang sekilas tampak mantap. Tanpa mengulang kembali apa yang telah disampaikan A. Teeuw, Ajip Rosidi, Yudiono K.S., Maman S. Mahayana, Bakri Siregar, bahkan Umar Junus dan Slametmoeljana, saya mencoba melihat upaya yang dilakukan para pakar sastra lainnya dalam merekonstruksi sejarah sastra Indonesia di era reformasi ini.
Dalam artikel yang dibacakan di 11th European Colloquium on Indonesian and Malay Studies yang diselenggarakan Lomonosov Moscow State University pada 1999, pengajar sastra Universitas Indonesia (UI), Ibnu Wahyudi, mengatakan, awal keberadaan sastra Indonesia modern dimulai pada 1870-an, yang ditandai dengan terbitnya puisi “Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi” (anonim) yang sekarang diterbitkan kembali dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (Jakarta: KPG, 2000).
Pada 2002, redaksi majalah sastra Horison yang dipimpin Taufiq Ismail menerbitkan buku Horison Sastra Indonesia (empat jilid) yang di dalamnya menyebutkan awal mula penulisan puisi Indonesia dipelopori Hamzah Fansuri sekitar abad ke-17. Namun, Taufiq Ismail masih menyebut Hamzah Fansuri sebagai pionir sastra daerah, dalam hal ini Aceh. Ia tidak dengan tegas menyatakan bahwa Hamzah Fansuri adalah sastrawan Indonesia.
Dari kedua hal di atas, setidaknya ada keinginan pada Ibnu Wahyudi untuk meluruskan sejarah sastra Indonesia yang sekarang diajarkan di sekolah-sekolah. Pelurusan sejarah ini penting karena berkaitan langsung dengan kesadaran kita mengenai bangsa dan negara Indonesia.
Sejak Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menyarankan untuk memutuskan sejarah kebudayaan prae-Indonesia (masa sebelum akhir abad ke-19) dengan kebudayaan Indonesia (awal abad ke-20 hingga kini), serta merta menghasilkan mata rantai sejarah yang terputus. Seolah-olah kebudayaan Indonesia baru lahir mulai 1900 sekaligus menafikan perjalanan sejarah bangsa yang telah berjalan ribuan tahun.
Lompatan besar yang dilakukan STA itu sejalan dengan politik etis yang tengah dilakukan kolonial Belanda. Tapi, hal itu sekaligus menjadi kabut yang mengaburkan jatidiri bangsa Indonesia. Pandangan Sanusi Pane yang senafas dengan Poerbatjaraka dalam menanggapi STA sebenarnya memperlihatkan pandangan yang khas Indonesia. Dalam arti, mereka tidak silau dengan pengaruh Barat yang masuk ke Indonesia dan tidak mabuk dengan kebudayaan bangsanya sendiri.
Poerbatjaraka mengingatkan bahwa sejarah hari ini adalah kelanjutan dari sejarah masa lalu dan tidak terpotong begitu saja. Ia pun menegaskan bahwa sejatinya yang harus dilakukan adalah menyeleksi kebudayaan Indonesia yang purba dan pengaruh kebudayaan Barat untuk diformulakan menjadi kebudayaan Indonesia baru. Dalam bahasa Sanusi Pane, sebaiknya kebudayaan Indonesia mengawinkan Faust (Barat) dengan Arjuna (Timur).
Jika kita masih berpegang pada pendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai pada 1920, kita masih setia pada sejarah yang terpotong itu. Kalau merujuk politik etis kolonial Belanda yang membentuk Commissie voor de Indlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) pada 1908, dan selanjutnya pada 1917 mendirikan Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang diberi nama Balai Pustaka, kelahiran sastra Indonesia—dengan demikian—merupakan produk politik etis kolonial Belanda itu. Padahal, pengaruh Barat semacam itu hanyalah babakan kecil dari pengaruh luar yang masuk ke Indonesia. Dengan kata lain, keterpengaruhan itu hanya bagian kecil dari keindonesiaan kita.
Hasil penelitian Ibnu Wahyudi di atas memperlihatkan bahwa ia sudah terlepas dari kungkungan pemikiran yang dibentuk Belanda. Dengan menempatkan karya-karya sastrawan Indonesia dari peranakan Cina dan peranakan Eropa sebagai titik awal kelahiran sastra Indonesia, sesungguhnya ia telah menghadirkan wacana baru bahwa karya sastra yang tidak melalui sensor Balai Pustaka, yang tidak menggunakan bahasa Melayu tinggi, yang disebut sebagai bacaan liar, yang ceritanya berdasarkan peristiwa “yang sungguh-sungguh pernah terjadi”, adalah juga termasuk dalam khasanah sastra Indonesia.
Penelusuran Pramoedya Ananta Toer terhadap karya sastra Indonesia tempo dulu juga memperlihatkan hal serupa. Sastrawan-sastrawan yang sebagian besar berlatar belakang wartawan dari peranakan Eropa, Cina, dan asli Minahasa, seperti F. Wiggers, G. Francis, H. Kommer, Tio Ie Soei, dan F.D.J. Pangemanann, merupakan anasir penting dalam sastra Indonesia yang berhasil diselamatkan.
Terbitnya buku Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer pada 1982 (dan direvisi pada 2003) ini memiliki dua arti penting. Pertama, ada semacam pengakuan terhadap eksistensi sastra Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu pasar. Pram pun telah berjasa karena telah menjalin kembali mata rantai sejarah sastra (dan juga kebudayaan) yang terputus akibat pemikiran STA.
Kedua, hasil penelusuran semacam itu sekaligus memperlihatkan sebuah babak yang unik dalam sejarah sastra Indonesia bahwa politik etis kolonial Belanda yang diskriminatif, terlebih di dunia pendidikan, menghasilkan produk yang tidak adil bagi bangsa pribumi. Akibatnya, hanya mereka yang boleh mengecap pendidikan “Barat” yang memiliki kemampuan berproduksi, yakni kaum peranakan dan golongan ningrat.
Karena itu, hanya kaum terpelajar seperti F.D.J. Pangemanann, sastrawan Minahasa yang juga pemimpin redaksi koran berbahasa Melayu, Djawa Tengah (1913-1938) dan bangsawan Jawa Noto Soeroto yang menghasilkan karya sastra pada masa maraknya sastra berbahasa Melayu pasar. Noto Soeroto sendiri menulis dalam bahasa Belanda, di antaranya Melatiknoppen (‘Kuntum-kuntum Melati’) pada 1915 dan Wayang-liederan (‘Dendang Wayang’) pada 1931, yang menurut Dick Hartoko berisi potret diri Noto Soeroto yang hidup dalam kemiskinan dan teralienasi dari masyarakatnya karena memilih sikap kooperatif dengan kolonial Belanda saat itu.
Sementara itu, karya Taufiq Ismail dkk., Horison Sastra Indonesia, memiliki arti sekaligus pesan penting bagi pembacanya untuk tidak melupakan karya sastra Indonesia “klasik” yang telah ditulis oleh pujangga-pujangga zaman dulu, seperti Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, Raja Ali Haji, Chik Pantee Kulu, Haji Hasan Mustapa, Tan Teng Kie, bahkan karya besar dari Bugis, I La Galigo (anonim, disusun Arung Pancana Toa).
Apa yang dilakukan Ibnu Wahyudi dan Taufiq Ismail dkk. sudah memberi sumbangan yang sangat berarti bagi pelurusan sejarah sastra Indonesia. Hanya saja, perlu dilakukan upaya yang lebih radikal untuk kemajuan sastra Indonesia itu sendiri.
Seperti yang kita ketahui, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945, manusia yang mendiami wilayah Indonesia sudah memiliki kebudayaan masing-masing. Salah satu anasir badaya yang mereka hasilkan adalah karya sastra yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah).
Dalam Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang karya P.J. Zoetmulder (1983), karya sastra tertua yang menggunakan bahasa Jawa kuno adalah Arjunawiwaha (‘Perkawinan Arjuna’) karya Empu Kanwa yang terbit sekitar 1028-1035 di masa kerajaan Airlangga. Sementara dalam buku Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7–19 karya Vladimir I. Braginsky (1998) disebutkan bahwa pada Zaman Pertengahan, sastrawan-sastrawan Melayu telah menghasilkan karya sastra yang mendunia.
Dengan tegas Braginsky menyatakan, “Bagi dunia Timur, dan dunia Melayu tidak terkecuali, yang tradisional dan yang modern saling berjalinan dengan erat dan kuat. Sehingga tanpa mengenal yang pertama, orang tidak mungkin menghayati kedalaman makna yang kedua. Ini berarti, bahwa hanya dengan demikianlah orang bisa menyelami sebab-musabab proses-proses yang kini tengah berlangsung di Indonesia… Di dunia Timur, bidang sastra ini juga menyimpan hakikat dari tradisi-tradisi yang hidup, dan memaparkannya pada generasi-generasi yang mendatang dengan lebih baik, dibandingkan dengan bidang-bidang kebudayaan apa pun lainnya.”
Datangnya pengaruh Hindu/Buddha, Islam, kemudian pengaruh Barat telah memberi warna baru yang memperkaya dan mematangkan kebudayaan Indonesia, termasuk di dalamnya khazanah sastra Indonesia. Sebagaimana yang terjadi di ranah agama, di ranah sastra pun terjadi “sinkretisme” yang dilakukan sastrawan setempat dengan pengaruh luar. Boleh saja Rudyard Kipling mengatakan East is east and west is west and the twin shall never meet. Tapi, bagi manusia Jawa, memadukan dua hal yang bertentangan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Hal ini bisa terlihat dalam kakawin Sutasoma karya Empu Tantular, misalnya.
Dari uraian singkat di atas, saya ingin menarik kesimpulan bahwa setidaknya ada dua “kiblat” dalam sastra Indonesia, yakni sastra Indonesia yang masih memperlihatkan pengaruh Hindu/Buddha yang sangat kuat, yang berpusat di Jawa dan sastra Indonesia yang masih memperlihatkan pengaruh Islam yang sangat kuat, yang berpusat di Sumatera. Kedua “kiblat” itu bisa menjadi runutan dan rujukan berkaitan dengan penentuan awal kelahiran sastra Indonesia. Kesimpulan ini diperkuat oleh hasil penelitian E.U. Kratz pada 1983 yang memperlihatkan bahwa sastrawan yang berasal dari Jawa (52,8%) dan Sumatera (30,3%) yang kini berperan besar dalam menghidupkan denyut nadi sastra Indonesia.*
———————
*) Asep Sambodja, penyair dan esais tinggal di Citayam. Redaktur Cybersastra.net.
ah……wedus klise
damn males bgt setiap hari harus dicolok pake headline-headline surat kabar yg isinya seputar gossip and lifestyle melulu, atau kanal-kanal telinga kuping yang panas dan iritasi denger gossip di setiap media elektronik.
Tapi seperti biasa, perlawanan akan itu semua akan tetap muncul dan menjadi sebuah gunung berapi yang sewaktu-waktu akan meletus, selama ini kita telah disumbat, dikangkangi dan dibodohi oleh hal-hal klise yang menjijikkan ini. Para penulis, jurnalis, sastrawan, seniman, budayawan, mahasiswa, guru dan lain sebagainya sadar tidak sadar diantara mereka telah membangun stasiun-stasiun perlawanan tadi, kalau boleh meminjam istilah dr bentara, istilahnya adalah gerilya melawan klise. Bagaimana tidak gerilya, jika kita-kita yang miskin ini harus menghadapi raksasa-raksasa klise, para cecunguk dan mucikari pelacur-pelacur klise ini, yang setiap saat mengangkang dan memamerkan kelaminnya yang sama sekali busuk dan tidak menarik. Bangsat kalian semua………
Klise sendiri secara penjahat telah merasuk ke dalam media-media di sekeliling kita. Tampil dalam berbagai majalah, tabloid dan koran yang dijajakan di pinggir-pinggir trotoar dan diantarkan bahkan ke halaman-halaman rumah kita. Dengan tampilan design yg kebanyakan norak dan menggigit, paling tidak menggigit bagi mereka yang idolanya band radja dan gantengnya aril peterpan…..akhh….taiiiii ! klise masal tadi seperti yang saya pernah gw baca di kumpulan essai bentara mempunyai tiga ciri utama.
Yang pertama dan yang paling menjijikkan bwt gw, lebih jijik daripada muntahan asu tetangga sebelah rumah.
Ciri pertama sebuah klise adalah, berisi tentang kultus selebriti. Berisi tentang dongeng-dongeng tolol, wanita-wanita cantik yang kelewat bego ataw pemuda-pemuda tampan yang pengen banget gua spooring kepalanya karena otaknya yang nda ada isinya alias koplok. Atau penyanyi-penyanyi yang tidak saja tampangnya yang pas-pasan tapi juga suaranya dan gayanya yang nggilani abis. Kayanya kalo nonton and bisa dekat dengan mereka jadi suka setengah mampus, ampe acara nangis-nangis segala. Kita semua jadi begitu sama sekali bukan karena dekat dan intim dengan mereka, walau gw juga pengen banget dekat dan intim sama dian sastro—husss ngelantur—. Tapi itu semua semata karena kita berada dalam radius ketenaran dan kemasyhuran mereka, istilahnya mungkin kena sawan untuk orang jawa. Ya sawan-sawan itu yang membuat kita meniru segala macam gerak-gerik mereka. Dari mulai
gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya makan, gaya sex….eh keplodosan maap.. gerak gerik mereka dan sebagainya, ini semua dikarenakan karena keingintahuan yang ganjil tadi. Kata para ahli namanya voyeurism mbuh bahasa mana itu, tapi artinya adalah segala bentuk keingin tahuan yang mengalami degradasi sehingga menjadi sekedar gossip visual. Inilah asal-muasal dan sekaligus hasil kultus selebriti secara masal tadi. Disini voyeurisme adalah konsumerisme visual, radja dan peterpan sebagai objeknya…eh kliru lagi…maksud saya selebriti adalah objeknya dan media masa adalah mediumnya.
Sekarang ciri yang kedua Yang namanya klise itu berisi pengkultusan terhadap gaya hidup, yang sosoknya elegan rapi, dandy dan harganya mahal. Lalu diangkat dan didewakan sebagi prestise dan simbol status. Akhhhhhhhh serem bayangin jika seseorang mengkultuskan sebuah life style Menilai anda lulus atau tidak dalam ujian semester dari gaya anda, dari rambut anda apakah mohawak, skin dan lain sebagainya atau bayangkan jika anda dinilai layak atau tidak memasuki sebuah kantor untuk bekerja dinilai dari parfum apa yang anda kenakan, apakah bennetton, kenzo atau Cuma minyak wangi non alkohol yang dijual per cc……bayangkan…… tapi saya bersyukur bahwasanya malaikat penjaga surga tidak akan melihat dimana baju saat terakhir kita mampus dibeli, apakah di mango atau di centro. Gaya hidup, yah itulah sesuatu kudis kecil yang tambah lama tambah besar dan kelak akan mengungkapkan diri kita sebenarnya. Apakah hanya seonggok daging terbungkus stelan prada atau manusia seutuhnya. Entahlah anda semua yang tau dan harus membuktikannya.
Ciri terakhir dari klise ini adalah isinya yang merupakan penggerusan kapasitas berfikir. berjuta-juta liputan, foto-foto, gossip mungkin terlihat sebagai sebuah informasi, namun sebenarnya tidak lain hanyalah sebuah informasi bagi voyeurisme. Sama-sama sampahnya, hanya saja mungkin kita melihatnya dengan mata penuh belek dan hati penuh nafsu. Makanya sampah pun terlihat sebagai koran bagus, film bagus, sinetron bagus, majalah bagus dan yang lebih seram lagi pemikiran bagus. Akh jijik sekali ternyata kita semua korban gerak-gerik narcisme sialan para artis dan selebritis. Hoexxxx saya akan muntah berkepanjangan jika saya ternyata memang benar-benar menjadi korbannya…paling tidak korban narcisme ian kasela atau inul misalnya.
Nah kombinasi ketiga trio klise tadi merupakan bentuk ke’jiji’an yg paling akut sekali. Yang muncul adalah suatu bentuk estetika pendangkalan mbuh apa bahasa inggrisnya tapi kata pencetusnya ‘Vaclav Havel’ yang dak tau saya asalnya dari mana, dia menyebut pendangkalan ini sebagai aesthethics of banality. Jadi ya setan bener…ya…semakin jaman makin maju, klise-klise ini makin menjamur dan merangsek, bisa ditemui di tas adik kita, di kamar teman kita, di dalam diri kita bahkan argggggggggggg. Makin lama kita merasa semakin maju dan beradab, kalo dulu hubungan seks hanya dilakukan berdua saja, maka sekarang masyarakat yg maju dan katanya hidup di tataran peradaban “akh tai !!!“ perlu melakukannya rame-rame, paling gak trisome katanya. Kalau dulu kita menilai yang wajar itu hubungan antara lawan jenis, maka masyarakat kita yang katanya civilization ini mulai mencoba dengan sejenis, lelaki dengan lelaki, wanita dengan wanita, dan dilegitimasi di atas sesuatu yang bernama demokrasi. Jadi …sooo…..wajar saja kalau di indonesia banyak anak sma yang pamer-pamer aurat dan segala macamnya. Mungkin mereka juga korban-korban klise-klise ini. Lantas kalo begitu siapa yang tanggung jawab…..mbuh…bahas sana sampe mampus… Sama anggota dpr, sama pak mentri, pak ustad, pak pendeta…….. pak kusnanto…….eh sory yang ini bokap gw….. entahlah gw bukan dalam kapasitas menghakimi siapa yang harus bertanggung jawab, tapi…..menurut gw, kita semua harus bertanggung jawab, harus bertanggung jawab sama semua sampah-sampah ini. Walau gak disalahkan biar bagaimanapun kita harus bertanggung jawab, makanya mulai sekarang jangan Cuma menyampah di muka bumi yang memang sudah sampah ini. Gak perlu petantang-petenteng bawa beceng kalo mau berjuang. Gak perlu…..cukup tulis dan lawan………………..
Rya Yunnianto, cijantung jam 2 pagi
amnesia sepenuh hati
Wis, tujuh ratus delapan puluh tiga hari berlalu dari hadapan kita kini. Tak lelah kusapu jalan setapak di pinggir rumah kita meski tak pernah bersih dari kotoran-kotoran yang dijatuhkan burung-burung musim semi dan sampah plastik bekas jajan anak sekolah yang selalu diterbangkan angin memenuhi bulatan-bulatan semen yang kau pasang rapih itu. Aku hampir tak tahu apakah ritual atau siklus yang membelengguku, karena siklus selalu datang setiap kali, sementara ritual telah membekukan hari-hariku ke dalam catatan waktu yang tak pernah terpecahkan oleh kecepatan otakku. Dan malam ini, ketika sunyi meresap pada batubatu yang semakin menghitam, kenangan muncul begitu jelas dalam kelam, lalu menggocoh dan mengelupasi parut-parut memori yang lama mengering dan menebal. Kalau dapat kumasuki labirin benakmu, tentu ingin kucari tahu mengapa kau masih saja berkeliaran sekarang, Wis.
Sih, tujuh ratus delapan puluh tiga hari berlalu dari hadapan kita kini. Belum juga kukenali jalan setapak di pinggir rumah itu meski katamu akulah yang memasangkan bulatan-bulatan semen dimana kaki-kaki jenjangmu selalu menapakinya untuk menjumpaiku. Kau tahu aku masih dan selalu akan ada di sekitarmu sambil melipat-lipat kenangan ini menjadi burung-burung yang akan kuterbangkan pada pesta musim semi di akhir pekan nanti. Apakah kau akan hadir juga di sana, Sih?
Wis, ingatkah kau bahwa aku tak pernah menyukai pesta dan kemeriahan itu? Ya, kulihat kau bersolek dengan rapih untuk pesta itu. Waktu berhasil meluluhkan bekumu ke dalam sebaskom lirik yang melapuk rupanya, meski tak kusangka secepat ini kau berubah pendirian. Tenanglah, selamat menikmati pesta musim semi. Aku tak akan datang, akan kuhabiskan malam di beranda rumah menatap langit yang pasti dihiasi semburan kembang api pesta. Mungkin akan kutemani bintang sekedipan yang menatap iri pada pestamu. Kami akan berbincang akrab sambil merayakan sunyi.
Sih, sakitkah rasanya?
Wis, kau yang mengenalkan aku pada ribuan kombinasi rasa yang ada padanya. Kalau saja rasa itu begitu bernilai untuk semua orang dan berlaku universal, tentu sudah kupotong habis, kumasukkan dalam amplop-amplop cokelat, lalu kukirim kepada sahabat-sahabatku. Sayangnya, tidak. Rasa itu selalu menjadi senyawa yang berbeda setiap kali ia menyentuh kulitku, hingga sia-sia saja bertahun-tahun waktu yang kuhabiskan untuk mencari rumusan rasa yang kau tanyakan: sakitkah?
Kau masih sama, Sih. Tak juga kau ijinkan aku bertamu bahkan sejenak saja dalam duniamu. Lalu, bagaimana akan kutemukan jawabnya?
Apakah kau tahu dimana duniaku berada, Wis? Kalau sisa dunia itu bahkan kini mulai membangun kembali reruntuhannya, kau tak tahu dimana ia berada. Kau tahu, aku sering berharap suatu saat terbentur hati kepada tembok dan kudapati diriku terbenam dalam amnesia sepenuh hati.
Sih, sesalku tak habis oleh umurku. Kau tahu itu sejak mula. Kau yang mengurai luka-lukaku di malam-malam tak bertuan yang begitu tekun kau susuri. Mengapa kau sembunyikan semua dariku, sedang telah kau jelajahi diriku pada malam ketika aroma rumput basah karena embun menyesaki paruparu kita. Senafas kita melarut dalam harumnya dini hari, ingatkah kau, Sih?
Betapa rumput-rumput imaji itu telah tumbuh begitu liarnya dalam benakku, Wis! Ah, andai kau tahu rasanya, telah kutebas habis tapi selalu ia berbalik mengikis rusuk-rusukku. Masih kucari dimana rusuk ini seharusnya berada, sebab kutahu bukan padamu seharusnya rusuk itu berada setelah terkikis imaji liar yang menciutkannya begitu rupa.
Sih, sesalku meresap bersama tarik nafasku. Mari kubantu kau membabat semuanya!
Apa yang akan kau ketahui dari reruntuhan yang sedang kubangun ini, Wis? Sedang jejaknya bahkan tak terbaca olehmu. Tiga peta kuberikan, dan telah kau buang begitu saja.
Sih, malam telah semakin gelap. Jangan sendiri saja.
Wis, malam adalah rumahku.
Sejak kapankah itu, Sih?
Dan kapankah kita pernah bersua, Wis?
Sih, gelap telah meluap.
Ya. Gelap telah melekat pada ariku. Apakah kau takut, Wis?
Kembalilah pada terangmu.
Wis, kau tahu aku tak pernah terlalu terang untuk dapat menyilaukan malam. Pada malam telah kutuangkan warna-warna kelabuku.
Pada malam, Sih?
Ya, pada malam yang mencintaiku dengan caranya memekatkan rasaku tanpa sekatsekat begitu dekat, yang menggenggamku erat-erat sewaktu kubisikkan resahku.
kamarbirukusam di rumahpojok, 03.00
ditulis oleh MILKA BASUKI pada blognya
Catatan:
frasa ‘amnesia sepenuh hati’ berasal dari “sajaksingkatrinduku”
pertama
Antologi puisi itu harusnya sudah selesai tadi malam kubaca habis, tapi kadang sepertinya waktu tak juga memberi tikungan tempat sedikit saja mengintip halaman-halaman buku sewaan itu. Hari ini seperti biasa kutemui ikan-ikan mas mini itu di taman depan ruanganku, hai…apa kabar kusapa mereka lirih. Baik mas sahut mereka, sehabis itu tak ada percakapan, mereka sibuk membuat tarian-tarian berputar seperti mohicans yang meminta turun hujan, seperti lebah yang bekerumun disarang madunya.
Siang itu tergenggam sebuah gelas wine berisi aqua isi ulang yang getir rasanya. Sedang di tangan kanan saya terselip sebatang marlboro impor yang cukup bisa disayang-sayang karena itu batang terakhir, oleh-oleh kawan dari luar negri. Sebentar fikiran saya melintas di atas genting rumah tua ini, melayang-layang ke tempat kita pertama berjumpa malam itu. Tercengang…………waktu terus berputar dan berjalan. Sudah berapa lama ya….? kita…..eh aku, hanya bisa menyapa lewat media PC menyebalkan ini, lewat program gratisan yahoo mesenger, yang kadang suka ngelunjak untuk tidak menyampaikan pesanku maupun balasanmu, entah karena apa.
Mau ngomong apa sih sebenernya di halaman pertama ini ? tanya kabar mungkin…kabarku baik-baik saja kok, cerah tak berawan dengan suhu beberapa derajat yang cukup panas. Namun sebentar saja cuaca habis dikupas, aku meringis malu menahan bohongku…..anu eh mau jujur saja, cuacaku mendung, lembayung bergelatung di atas sana, tapi petir belum datang juga, apalagi hujan yang mungkin bisa menambah kabarku menjadi sedikit melankolis. Tapi yang seperti kubilang kan, aku pecinta hujan….aku suka sensasinya, sensasi saat bulir-bulir itu terjatuh ke bumi karena cinta hakiki.
Kamu disana, bagaimana kabarnya ? berawan, cerah, atau hujan deras…woo boleh dong minta hujannya ? atau sekedar berteduh di awan-awan itu. Akh…nostalgi….
komentar