ah……wedus klise

Agustus 24, 2006

damn males bgt setiap hari harus dicolok pake headline-headline surat kabar yg isinya seputar gossip and lifestyle melulu, atau kanal-kanal telinga kuping yang panas dan iritasi denger gossip di setiap media elektronik.

Tapi seperti biasa, perlawanan akan itu semua akan tetap muncul dan menjadi sebuah gunung berapi yang sewaktu-waktu akan meletus, selama ini kita telah disumbat, dikangkangi dan dibodohi oleh hal-hal klise yang menjijikkan ini. Para penulis, jurnalis, sastrawan, seniman, budayawan, mahasiswa, guru dan lain sebagainya sadar tidak sadar diantara mereka telah membangun stasiun-stasiun perlawanan tadi, kalau boleh meminjam istilah dr bentara, istilahnya adalah gerilya melawan klise. Bagaimana tidak gerilya, jika kita-kita yang miskin ini harus menghadapi raksasa-raksasa klise, para cecunguk dan mucikari pelacur-pelacur klise ini, yang setiap saat mengangkang dan memamerkan kelaminnya yang sama sekali busuk dan tidak menarik. Bangsat kalian semua………

Klise sendiri secara penjahat telah merasuk ke dalam media-media di sekeliling kita. Tampil dalam berbagai majalah, tabloid dan koran yang dijajakan di pinggir-pinggir trotoar dan diantarkan bahkan ke halaman-halaman rumah kita. Dengan tampilan design yg kebanyakan norak dan menggigit, paling tidak menggigit bagi mereka yang idolanya band radja dan gantengnya aril peterpan…..akhh….taiiiii ! klise masal tadi seperti yang saya pernah gw baca di kumpulan essai bentara mempunyai tiga ciri utama.

Yang pertama dan yang paling menjijikkan bwt gw, lebih jijik daripada muntahan asu tetangga sebelah rumah.

Ciri pertama sebuah klise adalah, berisi tentang kultus selebriti. Berisi tentang dongeng-dongeng tolol, wanita-wanita cantik yang kelewat bego ataw pemuda-pemuda tampan yang pengen banget gua spooring kepalanya karena otaknya yang nda ada isinya alias koplok. Atau penyanyi-penyanyi yang tidak saja tampangnya yang pas-pasan tapi juga suaranya dan gayanya yang nggilani abis. Kayanya kalo nonton and bisa dekat dengan mereka jadi suka setengah mampus, ampe acara nangis-nangis segala. Kita semua jadi begitu sama sekali bukan karena dekat dan intim dengan mereka, walau gw juga pengen banget dekat dan intim sama dian sastro—husss ngelantur—. Tapi itu semua semata karena kita berada dalam radius ketenaran dan kemasyhuran mereka, istilahnya mungkin kena sawan untuk orang jawa. Ya sawan-sawan itu yang membuat kita meniru segala macam gerak-gerik mereka. Dari mulai
gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya makan, gaya sex….eh keplodosan maap.. gerak gerik mereka dan sebagainya, ini semua dikarenakan karena keingintahuan yang ganjil tadi. Kata para ahli namanya voyeurism mbuh bahasa mana itu, tapi artinya adalah segala bentuk keingin tahuan yang mengalami degradasi sehingga menjadi sekedar gossip visual. Inilah asal-muasal dan sekaligus hasil kultus selebriti secara masal tadi. Disini voyeurisme adalah konsumerisme visual, radja dan peterpan sebagai objeknya…eh kliru lagi…maksud saya selebriti adalah objeknya dan media masa adalah mediumnya.

Sekarang ciri yang kedua Yang namanya klise itu berisi pengkultusan terhadap gaya hidup, yang sosoknya elegan rapi, dandy dan harganya mahal. Lalu diangkat dan didewakan sebagi prestise dan simbol status. Akhhhhhhhh serem bayangin jika seseorang mengkultuskan sebuah life style Menilai anda lulus atau tidak dalam ujian semester dari gaya anda, dari rambut anda apakah mohawak, skin dan lain sebagainya atau bayangkan jika anda dinilai layak atau tidak memasuki sebuah kantor untuk bekerja dinilai dari parfum apa yang anda kenakan, apakah bennetton, kenzo atau Cuma minyak wangi non alkohol yang dijual per cc……bayangkan…… tapi saya bersyukur bahwasanya malaikat penjaga surga tidak akan melihat dimana baju saat terakhir kita mampus dibeli, apakah di mango atau di centro. Gaya hidup, yah itulah sesuatu kudis kecil yang tambah lama tambah besar dan kelak akan mengungkapkan diri kita sebenarnya. Apakah hanya seonggok daging terbungkus stelan prada atau manusia seutuhnya. Entahlah anda semua yang tau dan harus membuktikannya.

Ciri terakhir dari klise ini adalah isinya yang merupakan penggerusan kapasitas berfikir. berjuta-juta liputan, foto-foto, gossip mungkin terlihat sebagai sebuah informasi, namun sebenarnya tidak lain hanyalah sebuah informasi bagi voyeurisme. Sama-sama sampahnya, hanya saja mungkin kita melihatnya dengan mata penuh belek dan hati penuh nafsu. Makanya sampah pun terlihat sebagai koran bagus, film bagus, sinetron bagus, majalah bagus dan yang lebih seram lagi pemikiran bagus. Akh jijik sekali ternyata kita semua korban gerak-gerik narcisme sialan para artis dan selebritis. Hoexxxx saya akan muntah berkepanjangan jika saya ternyata memang benar-benar menjadi korbannya…paling tidak korban narcisme ian kasela atau inul misalnya.

Nah kombinasi ketiga trio klise tadi merupakan bentuk ke’jiji’an yg paling akut sekali. Yang muncul adalah suatu bentuk estetika pendangkalan mbuh apa bahasa inggrisnya tapi kata pencetusnya ‘Vaclav Havel’ yang dak tau saya asalnya dari mana, dia menyebut pendangkalan ini sebagai aesthethics of banality. Jadi ya setan bener…ya…semakin jaman makin maju, klise-klise ini makin menjamur dan merangsek, bisa ditemui di tas adik kita, di kamar teman kita, di dalam diri kita bahkan argggggggggggg. Makin lama kita merasa semakin maju dan beradab, kalo dulu hubungan seks hanya dilakukan berdua saja, maka sekarang masyarakat yg maju dan katanya hidup di tataran peradaban “akh tai !!!“ perlu melakukannya rame-rame, paling gak trisome katanya. Kalau dulu kita menilai yang wajar itu hubungan antara lawan jenis, maka masyarakat kita yang katanya civilization ini mulai mencoba dengan sejenis, lelaki dengan lelaki, wanita dengan wanita, dan dilegitimasi di atas sesuatu yang bernama demokrasi. Jadi …sooo…..wajar saja kalau di indonesia banyak anak sma yang pamer-pamer aurat dan segala macamnya. Mungkin mereka juga korban-korban klise-klise ini. Lantas kalo begitu siapa yang tanggung jawab…..mbuh…bahas sana sampe mampus… Sama anggota dpr, sama pak mentri, pak ustad, pak pendeta…….. pak kusnanto…….eh sory yang ini bokap gw….. entahlah gw bukan dalam kapasitas menghakimi siapa yang harus bertanggung jawab, tapi…..menurut gw, kita semua harus bertanggung jawab, harus bertanggung jawab sama semua sampah-sampah ini. Walau gak disalahkan biar bagaimanapun kita harus bertanggung jawab, makanya mulai sekarang jangan Cuma menyampah di muka bumi yang memang sudah sampah ini. Gak perlu petantang-petenteng bawa beceng kalo mau berjuang. Gak perlu…..cukup tulis dan lawan………………..

Rya Yunnianto, cijantung jam 2 pagi

Entry Filed under: tepian perlawanan. .

3 Comments Add your own

  • 1. pakcik ahmad  |  September 12, 2006 at 11:31 am

    kepik, ojo misuh-misuh….
    ya memang gitu tabiatnya “si pemakan tai”…

    Balas
  • 2. kepik  |  September 13, 2006 at 5:31 am

    iya nih terlalu over hehhe, tapi makin lama jalan perjuangan kok makin sulit ya ? apa nanti caci mencaci dan misuh2nya juga pake diksi-diksi yang sulit dan kata-kata yang rumit….wahhh kalo bisa nanti kita harus buka kamus-kamus tebal ya pakcik.hehhee

    Balas
  • 3. kutu  |  September 28, 2006 at 6:57 am

    gimana kalo les misuh2 secara elegan sama saya aja?

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


selintas gurat

tibatiba terlintas katakata dalam koportua;apacinta,apakahrasa apalahlogika pada kubangan katakata tertua aku terjebak: kata

Tulisan Terakhir

komentar

kutu di ah……wedus kli…
kepik di ah……wedus kli…
pakcik ahmad di ah……wedus kli…
Steven di sepulang kuliah
kutubuku di sepulang kuliah

almanak kata

Agustus 2006
S S R K J S M
    Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

halaman

Arsip

Meta