ingatan historis
Agustus 24, 2006 at 9:52 am 2 komentar
ingatan kata Gao Xinjiang “pemenang nobel sastra 2000″ bahwa tidaklah diwariskan seperti gen. manusia punya fikiran tapi tidak cukup pintar untuk belajar dari masa lalu, dan ketika api kedengkian menyala dalam fikiran manusia, maka dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Begitu juga dengan sastra, paling tidak itu yang ditangkap dari ruang makna bahwa sastra adalah salah satu tempat bagi kita untuk tidak mengulang kebodohan kita sendiri.dengan segalam macam cara, sastra telah menjadi pertautan kita kembali dengan sejarah yang akan membentuk dan akan menentukan eksistensi kita sebagai manusia. Apalagi sastra-sastra dengan kesadaran-kesadarannya dengan sejarah. Ambillah contoh Pramoedya Ananta Toer dengan karya-karyanya, yang sepertinya memang sengaja ditulis agar manusia menyadari lingkungan historisnya. Sejarah sendiri disini bagi pram berfungsi untuk sebuah titik orientasi yang memandu manusia agar tidak kehilangan arahnya.
Ada cerita menarik dari pram yang saya baca dalam sebuah sesi wawancaranya dengan martin aleida. Disitu pram bercerita tentang sebuah kejadian di pulau buru, karena rancangan Bumi Manusia pram sendiri telah ditulis dan diceritakannya berulang-ulang di pulau buru, kata pram. Seorang temannya setelah membaca rancangan Bumi Manusia, lantas lari dan menghilang. Teman-temannya sengaja tidak melapor tentang kejadian tadi
Dicari kemana-mana berhari-hari gak keliatan. Sampai akhirnya dia ditemukan di salah satu bagian hutan. Diseret lalu dibawa pulang, orang itu ditanyai mengapa lari ? dia menjawab “saya mau menjadi minke”. Sendirian dia lari.
Sinting itu kata pertama yang keluar dari benak saya. Seorang melakukan semua ini karena kata-kata yang digoreskan pram di bumi manusianya. Inilah kesadaran manusia agar menyadari lingkungan historisnya, sebuah lingkungan hidup yang tidak berbatas hanya pada pepohonan dan lain sebagainya.
Inilah sebenarnya yang kadang membangkitkan saya untuk menulis, menulis apa saja…karena mungkin saja ada percikan-percikan bunga api yang akan membuat orang lain atau paling tidak saya sendiri yang merasakan kehangatan api-api yang akan dihasilkan. Ini yang saya ingin curahkan dalam tulisan-tulisan saya, entah seperti apa perkembangan zaman ini membawanya. Yang penting karya saya bisa membuat saya sedikit lega.
Pramoedya dan saya dua hal yang sama sekali berbeda, tapi jangan salahkan masa jika kami mengambil senjata yang sama …………kata-kata………..
RYA YUNNIANTO,TEBET 11-7-06
Entry filed under: tepian perlawanan. Tags: .
1.
asdak | Agustus 24, 2006 pada 1:10 pm
mm menururt saya itu hal menarik
2.
shiethie | Agustus 26, 2006 pada 6:21 am
saya memahami isi dan makna yang dimaksud penulis, tapi kenapa di akhir paragraf ” pramoedya dan saya dua hal yang sama sekali berbeda, tapi jangan salahkan masa jika kami mengambil senjata yang sama” oke saya tau hanya perbedaan profesi tapi untuk lebih memahami pembaca seharusNya Nama pramoedya sudah anda perkenalkan di awal cerita bukan nama pram tapi dengan di perjelas dengan nama pramoedya!!
oke mungkin itu aja yang dapat saya berikan untuk comment “N satu lagi jangan pernah takut untuk menyamakan sesuatu pada orang lain APABILA ITU SUATU YANG POSITIF oTRe…