pertama
Agustus 24, 2006
Antologi puisi itu harusnya sudah selesai tadi malam kubaca habis, tapi kadang sepertinya waktu tak juga memberi tikungan tempat sedikit saja mengintip halaman-halaman buku sewaan itu. Hari ini seperti biasa kutemui ikan-ikan mas mini itu di taman depan ruanganku, hai…apa kabar kusapa mereka lirih. Baik mas sahut mereka, sehabis itu tak ada percakapan, mereka sibuk membuat tarian-tarian berputar seperti mohicans yang meminta turun hujan, seperti lebah yang bekerumun disarang madunya.
Siang itu tergenggam sebuah gelas wine berisi aqua isi ulang yang getir rasanya. Sedang di tangan kanan saya terselip sebatang marlboro impor yang cukup bisa disayang-sayang karena itu batang terakhir, oleh-oleh kawan dari luar negri. Sebentar fikiran saya melintas di atas genting rumah tua ini, melayang-layang ke tempat kita pertama berjumpa malam itu. Tercengang…………waktu terus berputar dan berjalan. Sudah berapa lama ya….? kita…..eh aku, hanya bisa menyapa lewat media PC menyebalkan ini, lewat program gratisan yahoo mesenger, yang kadang suka ngelunjak untuk tidak menyampaikan pesanku maupun balasanmu, entah karena apa.
Mau ngomong apa sih sebenernya di halaman pertama ini ? tanya kabar mungkin…kabarku baik-baik saja kok, cerah tak berawan dengan suhu beberapa derajat yang cukup panas. Namun sebentar saja cuaca habis dikupas, aku meringis malu menahan bohongku…..anu eh mau jujur saja, cuacaku mendung, lembayung bergelatung di atas sana, tapi petir belum datang juga, apalagi hujan yang mungkin bisa menambah kabarku menjadi sedikit melankolis. Tapi yang seperti kubilang kan, aku pecinta hujan….aku suka sensasinya, sensasi saat bulir-bulir itu terjatuh ke bumi karena cinta hakiki.
Kamu disana, bagaimana kabarnya ? berawan, cerah, atau hujan deras…woo boleh dong minta hujannya ? atau sekedar berteduh di awan-awan itu. Akh…nostalgi….
Entry Filed under: tepian perlawanan. .
Subscribe to the comments via RSS Feed