Archive for Agustus 25th, 2006
Ode untuk Perempuan Tua
Mak, aku pulang
Maaf cuman sejanjang ikan tak penuh ini yang bisa kuperoleh untukmu. Tadi aku terlalu asyik mengamati camar. Hingga terbawa sampai ke utara. Bertemu kapal-kapal pembesar. Di ejeknya aku. Perahu kecil dan mesin tua ini. Hanya ikan ikan tak berakal yang bersedia menyerahkan nyawa di ujung jaring usang kita.
Aku geram mak, lalu ku ajak mereka bertanding. Beradu otot tanpa otak. Kupaksa mesin hingga terkolaps. Apinya melingkar menggumpal-nggumpal. Hitam. Bau solar memerahkan hidung. Bukan menang yang ku dapat tapi hilangnya harga diri. Terombang – ambing aku tanpa tangkapan. Terayun ayun tak punya tujuan. Bahkan bintang besarpun tidak memihak aku. Dibiarkan aku tenggelam dalam pekat.
Sampai lelah aku mengayuh. Mesin tua tak mau jalan. Menyalahkan siapa mak? kebodohanku atau kemiskinan kita? Untuk 30.000 yang kita setorkan.
Sial sekali itu juragan kejam. Mencekik leher sampai melilit. Kalau aku tak sayang emak, mungkin sudah kuracun mati dirinya. Memeras orang melas sampai terperas. Kehabisan nafas. Untung saja aku bertemu nelayan baik. Hanya bercerita saja aku, tentang hujan dan warna pelangi . Lalu dibaginya ikan dalam janjang itu. Lumayan mak, ambil 3 ekor untuk kita goreng. Makan bersama adik. Ekor-ekor tersisa boleh emak jual, untuk beras dan mencicil si pengerat licik itu. Solar 4.300 dijual 5.000. Kepalanya cuman dipenuhi untung. Belas kasih tidak pernah terlintas. Asal perutnya menggembung dan emas di leher bertambah, tutup mata ia akan kelaparan. membengis ia pada isak tangis.
Sudah ku bilang dari dulu Mak. Jual saja rumah dan perahu. Pindah kita ke tengah hutan. Menanam padi dan singkong. Laut tidak memberi apapun, hanya kenistaan. Digulung ombak, dihempas penderitaan. Apa yang membuat mu masih bertahan mak? Cinta, kenangan atau ketidak-inginan. Aku lelah beradu mulut, berbusa busa kata ku teriakan sekedar membuatmu melihat pada kenyataan. Laut sudah tidak bersahabat lagi dengan kita.
Harus menunggu berapa lama lagi mak? Melihat semuanya hilang dan tinggal tersisa raga?
Aku mencintaimu perempuan tua. Tak tergagas meninggalkanmu. Susahpun aku mau. Tetap di sini sampai mati. Walau iming-iming menggenggam ringgit dan real sedemikian derasnya. Walau harus legam terpanggang matahari. Akan tetap kujelajahi lautan luas. Mencari sampai dapat apa yang tidak mau engkau lepaskan.
Tidurlah Mak,
Pagi-pagi buta aku sudah harus pergi. Berjanji, tidak Cuma sejanjang yang aku bawa pulang, tetapi dua. Ditambah jaring usang yang penuh ikan-ikan tak berakal. Pasti tersenyum engkau nanti.
25.8.06 – gigi dan catatan pantai.
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
3 comments Agustus 25, 2006
insiden meja kerja
08:03:59
Apakah aku salah mengenalimu? Pada katakatamu sesekali kutemukan cerah yang begitu memikat. Untunglah indera pengingatku masih bekerja baik untuk tidak melupakan apakah tujuan utamaku berada di ruangan ini, setelah kutempuh ribuan kilometer untuk mencari dan menemukan keberadaan dirimu.
8:04:17
Mungkin lebih mudah kulakukan pekerjaan ini bila aku berkata jujur padamu. Begini sayangku, sebenarnya aku belum pernah membunuh seorang pun dan aku tak pernah berniat membunuh siapapun hingga semalam, sewaktu seorang sekutu mengusulkan sebuah ide untuk membuatmu merasa jauh lebih buruk daripada mati. Aku bukan pembunuh; maka dikirimnya aku berkunjung pagi ini untuk berdiri di depan meja kerjamu. Bersiap menjadi pelayanmu, dan melakukan apa saja yang kau mau. Apa saja.
8:05:33
Tenanglah, jangan kau pasang raut pias itu. Aku masih manusia biasa yang begitu mencintaimu. Tak ada yang berbeda dariku setelah empat lima tahun berlalu meski kulihat kini kau begitu manis dan rapih dengan pantalon dan sepatu kulitmu. Tentu saja aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu. Tak tahukah kau? Itulah sebabnya pagi ini aku ada di sini. Aku tak hendak menyakiti orang yang paling kucintai. Semua ini hanya main-main saja. Sama seperti ketika kau bermain katakata suci tak bercela yang kau taburkan pada lukaku yang membusuk, kau bilang: siapa tahu ini bisa sembuhkan luka. Marilah kita bermain-main sekali lagi untuk yang terakhir kali. Serangkaian katakata suci terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja, bukan?
8:08:18
Aku membunuhmu, akhirnya. Kau mungkin tak terlalu sadari betapa peluru itu telah melesak ke jantungmu sementara kau masih mencoba untuk menghapus semua jejakmu. Tak perlu saksi ahli kali ini, tak perlu visum et repertum selain tergenggam benakmu yang berlumur cairan pekat racunmu dalam sekepal kecil tanganku. Ya, sedikit saja itu cukup buatku.
8:09:00
Sebotol karbol untuk tutupi busukmu, setumpuk kertas dan pena untuk pesanpesan terakhirmu, setumpuk suratsuratmu dan katakata suci yang tak pernah terlalu suci. Bawalah semua dalam koportuamu selagi kau memilih untuk mati dan napasmu tak kunjung padam.
ditulis oleh milka basuki
1 comment Agustus 25, 2006