insiden meja kerja

Agustus 25, 2006 at 5:46 am 1 komentar

08:03:59
Apakah aku salah mengenalimu? Pada katakatamu sesekali kutemukan cerah yang begitu memikat. Untunglah indera pengingatku masih bekerja baik untuk tidak melupakan apakah tujuan utamaku berada di ruangan ini, setelah kutempuh ribuan kilometer untuk mencari dan menemukan keberadaan dirimu.

8:04:17
Mungkin lebih mudah kulakukan pekerjaan ini bila aku berkata jujur padamu. Begini sayangku, sebenarnya aku belum pernah membunuh seorang pun dan aku tak pernah berniat membunuh siapapun hingga semalam, sewaktu seorang sekutu mengusulkan sebuah ide untuk membuatmu merasa jauh lebih buruk daripada mati. Aku bukan pembunuh; maka dikirimnya aku berkunjung pagi ini untuk berdiri di depan meja kerjamu. Bersiap menjadi pelayanmu, dan melakukan apa saja yang kau mau. Apa saja.

8:05:33
Tenanglah, jangan kau pasang raut pias itu. Aku masih manusia biasa yang begitu mencintaimu. Tak ada yang berbeda dariku setelah empat lima tahun berlalu meski kulihat kini kau begitu manis dan rapih dengan pantalon dan sepatu kulitmu. Tentu saja aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu. Tak tahukah kau? Itulah sebabnya pagi ini aku ada di sini. Aku tak hendak menyakiti orang yang paling kucintai. Semua ini hanya main-main saja. Sama seperti ketika kau bermain katakata suci tak bercela yang kau taburkan pada lukaku yang membusuk, kau bilang: siapa tahu ini bisa sembuhkan luka. Marilah kita bermain-main sekali lagi untuk yang terakhir kali. Serangkaian katakata suci terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja, bukan?

8:08:18
Aku membunuhmu, akhirnya. Kau mungkin tak terlalu sadari betapa peluru itu telah melesak ke jantungmu sementara kau masih mencoba untuk menghapus semua jejakmu. Tak perlu saksi ahli kali ini, tak perlu visum et repertum selain tergenggam benakmu yang berlumur cairan pekat racunmu dalam sekepal kecil tanganku. Ya, sedikit saja itu cukup buatku.

8:09:00
Sebotol karbol untuk tutupi busukmu, setumpuk kertas dan pena untuk pesanpesan terakhirmu, setumpuk suratsuratmu dan katakata suci yang tak pernah terlalu suci. Bawalah semua dalam koportuamu selagi kau memilih untuk mati dan napasmu tak kunjung padam.

ditulis oleh milka basuki

Entry filed under: mereka. Tags: .

ingatan historis Ode untuk Perempuan Tua

1 Komentar Add your own

  • 1. kepik  |  Agustus 25, 2006 pada 8:15 am

    diksi dan metaforanya menakjubkan, gelap dan suram heheh…sekali lagi milka basuki menyeret kita ke ceruk-ceruk dalamnya yang indah sekaligus gelap.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


selintas gurat

tibatiba terlintas katakata dalam koportua;apacinta,apakahrasa apalahlogika pada kubangan katakata tertua aku terjebak: kata

Tulisan Terkini

almanak kata

Agustus 2006
S S R K J S M
    Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

halaman


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.