Ode untuk Perempuan Tua
Agustus 25, 2006 at 7:58 am 3 komentar
Mak, aku pulang
Maaf cuman sejanjang ikan tak penuh ini yang bisa kuperoleh untukmu. Tadi aku terlalu asyik mengamati camar. Hingga terbawa sampai ke utara. Bertemu kapal-kapal pembesar. Di ejeknya aku. Perahu kecil dan mesin tua ini. Hanya ikan ikan tak berakal yang bersedia menyerahkan nyawa di ujung jaring usang kita.
Aku geram mak, lalu ku ajak mereka bertanding. Beradu otot tanpa otak. Kupaksa mesin hingga terkolaps. Apinya melingkar menggumpal-nggumpal. Hitam. Bau solar memerahkan hidung. Bukan menang yang ku dapat tapi hilangnya harga diri. Terombang – ambing aku tanpa tangkapan. Terayun ayun tak punya tujuan. Bahkan bintang besarpun tidak memihak aku. Dibiarkan aku tenggelam dalam pekat.
Sampai lelah aku mengayuh. Mesin tua tak mau jalan. Menyalahkan siapa mak? kebodohanku atau kemiskinan kita? Untuk 30.000 yang kita setorkan.
Sial sekali itu juragan kejam. Mencekik leher sampai melilit. Kalau aku tak sayang emak, mungkin sudah kuracun mati dirinya. Memeras orang melas sampai terperas. Kehabisan nafas. Untung saja aku bertemu nelayan baik. Hanya bercerita saja aku, tentang hujan dan warna pelangi . Lalu dibaginya ikan dalam janjang itu. Lumayan mak, ambil 3 ekor untuk kita goreng. Makan bersama adik. Ekor-ekor tersisa boleh emak jual, untuk beras dan mencicil si pengerat licik itu. Solar 4.300 dijual 5.000. Kepalanya cuman dipenuhi untung. Belas kasih tidak pernah terlintas. Asal perutnya menggembung dan emas di leher bertambah, tutup mata ia akan kelaparan. membengis ia pada isak tangis.
Sudah ku bilang dari dulu Mak. Jual saja rumah dan perahu. Pindah kita ke tengah hutan. Menanam padi dan singkong. Laut tidak memberi apapun, hanya kenistaan. Digulung ombak, dihempas penderitaan. Apa yang membuat mu masih bertahan mak? Cinta, kenangan atau ketidak-inginan. Aku lelah beradu mulut, berbusa busa kata ku teriakan sekedar membuatmu melihat pada kenyataan. Laut sudah tidak bersahabat lagi dengan kita.
Harus menunggu berapa lama lagi mak? Melihat semuanya hilang dan tinggal tersisa raga?
Aku mencintaimu perempuan tua. Tak tergagas meninggalkanmu. Susahpun aku mau. Tetap di sini sampai mati. Walau iming-iming menggenggam ringgit dan real sedemikian derasnya. Walau harus legam terpanggang matahari. Akan tetap kujelajahi lautan luas. Mencari sampai dapat apa yang tidak mau engkau lepaskan.
Tidurlah Mak,
Pagi-pagi buta aku sudah harus pergi. Berjanji, tidak Cuma sejanjang yang aku bawa pulang, tetapi dua. Ditambah jaring usang yang penuh ikan-ikan tak berakal. Pasti tersenyum engkau nanti.
25.8.06 – gigi dan catatan pantai.
Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e bugtronic@yahoo.com.
Entry filed under: lirih kata. Tags: .
1.
kepik | Agustus 25, 2006 pada 8:12 am
seperti tulisan pram membawa menyeret kita ke lingkungan sekitar, membuat kita sadar dan seolah merasakan bahkan jika hujan turun dan kamu ceritakan. pembaca seolah dibawa mencium bau tanah terkena tetesnya ringan tapi mengasikkan alunannya yg bikin renyah garing dan ringan seperti emping mlinjo dr bengkulu hehehe asik…..makasih ya
2.
kutu | Agustus 25, 2006 pada 9:20 am
membuat saya lapar dan ingin mainmain ke pantai pasir putih itu.
laut memberi tahu nista hidup, selagi kau biarkan kabut itu penuhi kepalamu. laut memberi tahu warna hidup, selagi kau relakan aku warnai sudutsudut kepalamu malam nanti.
3.
shiethie | Agustus 26, 2006 pada 3:05 am
isi alur cerita bisa di mengerti tapi di kalimat/di paragraf ” sudah kubilang dari dulu mak” saya pribadi kurang paham apakah dia bercakap langsung dengan mak Nya atau hanya ucapan yang ia lontarkan sebab kalau dia bercakapan dengan Mak Nya knpa tak ada satupun kalimat yang terlontar dari ucapan Mak Nya! kalau memang bercakapan langsung dengan Mak Nyat erkesan dari alur cerita Mak Nya itu hanya sebagai pendengar setia!!